d sWeetY cHubBy

d sWeetY cHubBy

welcome 2 my bloG....

This blog is my mirror..
It represents my purpose and my passion,
I juz need to share all of my experience, what in my mind, all i want, all I need, and everything about me..
May be it can be my diary,
also my thankful book,
my reminder and my heart alarm,
and many more.


so juZ read it and teLL me what do you thinK about me..............

^-^

Thursday, December 31, 2015

Flash Back 2015

New year's eve 2015
Pattani, Thailand


2015. Tahun paling ajaib dalam hidupku hingga saat ini. Tahun yang dihiasi dengan berbagai rasa, warna dan cerita. Mari mencoba menghitung berkat-Nya (yang mampu kita hitung) karena sesungguhnya berkat-Nya tidaklah terhitung.

Januari 2015
Diawali dengan sebuah langkah terbesar dalam hidupku. Menikah. 3 Januari 2015. Sekali untuk selamanya. Setelah pacaran lebih dari 7 tahun, akhirnya Tuhan mengijinkan Bernadus Rio Wicaksono menjadi pendamping hidupku. Dilanjutkan bulan madu ke Singapura dan menjalani long distance marriage setelahnya. Kembali ke Thailand, dalam kurun waktu satu minggu, Tuhan mengijinkan untuk melewati thesis proposal defensive dengan baik, selesai dalam waktu 1.5 jam saja. Segala puji bagi Tuhan.

Februari 2015
Ulang tahun ke 26. Pertama kalinya merayakan ulang tahun di negeri orang, dengan status sebagai istri orang dan sebagai mahasiswa. Tuhan memberikan teman-teman yang baik, memberikan kejutan di hari ulang tahun. Selain itu aku berkesempatan jalan-jalan dengan Prof Jens dan istrinya Vibecka dari Denmark. Di tengah-tengah sakit kuping mendengarkan orang Thailand dengan Thainglishnya, ngobrol banyak dengan native speaker itu cukup melegakan.

Maret 2015
Satun trip! Berhubung dosen pembimbing lagi ke Prancis (ini juga bisa dihitung sebagai berkat Tuhan yang tak terkira), dimanfaatkanlah waktu untuk ke Satun. Refreshing lah ya. Kebetulan perjalanan kali ini super duper ransel dan mengarah ke "jika aku menjadi", agak kurang cocok sih akunya. Tapi melihat kehidupan nelayan-nelayan di sana aku jadi benar-benar bersyukur aku hidup di Indonesia dilahirkan di keluarga yang sederhana namun senantiasa dicukupkan oleh Tuhan. Tidak perlu berpeluh mencari ikan di laut, mandi nunggu air hujan, toilet seadanya, tidur di balai-balai dan sebagainya. Pelajaran berharga dari perjalanan ini.

April 2015
Yeay akhirnya Songkran Festival tiba juga. Janjian sama suami di Malaysia, our second honeymoon. Kangen sangat. Berasa orang kaya janjiannya aja di luar negeri, tapi sebenarnya ini cara berhemat karena ke KL tiketnya lebih murah daripada ke Jakarta. Bulan ini juga diberi kesempatan untuk menjadi MC di acara ASEAN Night yang cukup besar, agak gugup juga sih awalnya, tapi Tuhan yang beri kelancaran. Acaranya dihadiri para Duta Besar dan Konsulat Jenderal, panggungnya gedhe ala-ala inbox SCTV, dandananku aja maksimal abis pake kebaya merah meriah. Honornya juga lumayan. Bersyukur dapat pengalaman ini.

Mei 2015
Proposal thesis berhasil mendapatkan funding dari Graduate School sebesar 30,000 THB. Puji syukur kepada Tuhan. Perjuangan tidak sia-sia.

Juni 2015
GPA semester ini ga sesempurna semester kemarin sih, 3.88. Tak apalah. Bukan jumlah yang kecil juga, mungkin diingatkan untuk lebih banyak belajar dan lebih banyak membaca. 

Juli 2015
Pulaanggggg ke Indonesia (ke rumah suami di Dumai tepatnya)! Senangnya. Mungkin ini sudah rencana Tuhan. Kalau belum nikah, mana mungkin bisa satu bulan liburan di rumah suami begini, bisa-bisa malah liburan kuliah gini tetep di kampus aja, ga pulang ke Indonesia. Selama di sini bisa bener-bener merasakan jadi ibu rumah tangga. Bangun pagi masakin sarapan buat suami, setrika baju, siang masak sama bersih-bersih rumah sambil nunggu suami pulang kerja. Hari Sabtu ke gereja bareng trus bisa makan bareng di luar. Hari Minggu ke pasar bareng-bareng belanja buat seminggu, liat proses "pembunuhan" ayam pula. How could I ask more, God?

Agustus 2015
Kembali ke realita jadi mahasiswa lagi. 

September 2015
Si merah rewel ga mau nyala. Sempet frustasi dan akhirnya beli si putih yang sekarang dipake nulis artikel ini. Selalu ada hikmah kan di balik musibah. Kalau si merah ga rewel mungkin ga punya kesempatan punya si apple ini. Berkesempatan juga mengerjakan lab di kampus HatYai. Kampusnya emang jauh lebih oke sih dari Pattani. Mungkin kalau waktu boleh diulang mau daftar di Hat Yai aja kali ya. #eh. Tapi apa yang sudah terjadi kan sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Mari bersyukur. Banyak lho yang pengen kuliah di luar negeri dengan beasiswa full.

Oktober 2015
Semua nampak baik-baik saja. International Student Office mengadakan Sport Day. Awalnya sih enjoy aja, tapi waktu main basket terjadilah kecelakaan yang bikin aku merasakan first time in everything. 
- pertama kali berasa mau pingsan karena muka berdarah-darah
- pertama kali dibawa pakai ambulance
- pertama kali masuk UGD (seumur-umur masuk rumah sakit aja ga pernah)
- pertama kali X-ray selain karena kewajiban test kesehatan
- pertama kali pakai gips
- pertama kali pakai kruk
- pertama kali ngerasa down parah, ga pede dan ngerasa jadi orang paling menderita di dunia
Tapi mungkin ini rencana Tuhan supaya aku lebih banyak berdoa, secara selama ini masih suka bolong-bolong berdoanya. Dan aku berada di titik pasrah dan berserah.

November 2015
Ternyata kakiku masih belum sembuh. Belum bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal dan sendiri, malah gips nya diganti yang full casting dari polyester. Baiklah, kuputuskan untuk pulang ke Indonesia karena di sini tidak ada yang bisa merawat, di Indonesia ada suami dan keluarga. Puji Tuhan diberi kemudahan saat akan pulang, tiket mudah didapat harganya juga reasonable, selama perjalanan memanfaatkan fasilitas wheel service dari Air Asia Care, suami jemput di KL (awalnya udah panik karena kapal ke Melaka nya delay, tapi Puji Tuhan masih bisa sampai di KLIA tepat waktu jadi bisa ketemu tanpa menunggu terlalu lama), sampai di Indonesia dengan selamat. Dirawat ibu mertua yang super baik, papa mama juga datang nengokin, teman-temannya Rio, teman-teman kantor. Sungguh, keluarga dan teman-teman adalah anugerah terbesar, kekuatan di saat aku merasa tidak bisa apa-apa. Semua karena kasih Tuhan aku boleh menyadari berkat tak ternilai ini.

Desember 2015
Puji Tuhan aku diberi kesembuhan, bisa mulai belajar jalan sedikit demi sedikit, boleh merayakan natal di Solo, Salatiga dan Semarang bersama suami, keluarga suami dan keluargaku. Boleh merayak misa di Solo dan ibadah di GKJ di Salatiga. Mungkin cuma sebentar, tapi ini adalah berkat Tuhan, tanpa ijinNya mungkin aku belum boleh menikmati ini. Tanggal 27 Desember aku kembali ke Thailand untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Tuhan kembali mempermudah perjalanan kembali ke Thailand, Tuhan memberi kekuatan dan perlindungan hingga aku tiba dengan selamat. Tuhan juga yang ijinkan aku saat ini merayakan tahun baru di sini. Mungkin tidak seindah kalau aku ada di rumah Rio atau di rumah papa mama, tapi selalu ada alasan untuk bersyukur. Kalau kata Rio, "kamu beruntung dong bisa tahun baruan di negara orang, banyak orang yang pengen tahun baruan di luar negeri, kamu gratisan tahun baruan di luar negeri." Okelah. Ini malam tahun baru pertama buatku di negara orang. Puji Tuhan untuk kesempatan ini. 

Kisah ini ditulis bukan ingin sombong atau pamer. Sungguh ini menjadi self reminder untuk diri sendiri bahwa berkatNya tak terhitung. Kalau dibaca baik-baik ada kisah yang kurang baik seperti laptop rusak dan kecelakaan yang bikin ga bisa ngampus 1 bulan lebih. Tapi semua pasti terjadi karena seijin Tuhan dan Tuhan punya rencana di balik itu.


Apakah beban membuatmu penat?
Salib yang kau pikul menekan berat
Berkat Tuhan satu-satu hitunglah
Kau niscaya kagum oleh kasihNya

Berkat Tuhan mari hitunglah
Kau kan kagum oleh kasihNya
Berkat Tuhan mari hitunglah
Kau niscaya kagum oleh kasihNya


Tuhan, terima kasih untuk tahun 2015 yang luar biasa ini. Tahun boleh berganti, namun Tuhan tetaplah Tuhan yang sama. Engkau tidak akan berubah. KasihMu kekal untuk selamanya. PenyertaanMu sempurna. RancanganMu penuh damai. Biarkan aku terus memujiMu selamanya. Aku siap untuk menjalani 2016 ini bersamaMu, Tuhan. Amin.

Wednesday, October 14, 2015

Melepaskan

Apa yang kau kejar nona?
Sebuah nama?
Sebuah gelar?
Penghargaan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Tak lelah kau berlari?
Tak letih kau mengejar?

Sudahlah nona..
Terkadang kau harus belajar melepaskan
Melepaskan diri
Melepaskan hati
Melepaskan jerit
Hingga akhirnya melepaskan tangis
Dari situlah kau tahu
Melepaskan itu indah

Belajarlah untuk melepaskan nona..

I am back

It's been a very long time not to visit this blog. Almost three years.

Setahun ini hidupku berubah. Bukan lagi wanita karir yang berangkat pagi pulang malam bekerja di gedung tinggi. Sekarang aku cuma mahasiswa. Entah apa yang kupikirkan saat aku mendaftar ke universitas ini. Masa depan yang lebih baik? Prestise? Atau sekedar jenuh dengan kehidupan di kantor. Namun itu sudah tidak penting lagi. Yang jelas aku sudah "terjebak" di sini. Terjebak oleh keputusanku sendiri.

Hampir selalu ada perasaan ingin pergi, ingin berlari, ingin kembali. Namun jika menengok ke belakang, ada terlalu banyak hal dan terlalu banyak orang yang berkorban demi aku berada di sini. Menuntut ilmu yang katanya buat negara, atau untuk diri sendiri, ah atau entah untuk siapapun.

Semakin belajar semakin aku merasa bodoh. Semakin tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Itu yang membuatku menyerah? Bukan. Karena seiring aku tahu aku tidak tahu apa-apa, di situ aku tahu bahwa banyak orang juga yang mungkin sebenarnya juga tidak tahu apa-apa.

Dulu aku pernah terkagum-kagum pada jurnal, paper dan sejenisnya. Sekarang? Aku cuma menganggapnya sampah. Entah apa karena terlalu banyak hal yang mereka sembunyikan sampai aku tidak bisa mendapatkan hasil seperti mereka, atau karena aku juga tidak yakin apa yang mereka publikasikan itu adalah sebuah kebenaran.

Mungkin juga aku yang salah memilih pembimbing. Ah entahlah. Apa ada yang salah jika kita mengalami kegagalan dalam sebuah penelitian? Terlebih jika itu kali pertama. Lalu kita selalu dianggap salah. Dianggap tidak bisa merencanakan sebuah penelitian dengan baik. Heeyyy please! Kadang aku ingin berteriak. Aku tidak sedang melakukan perbuatan kriminal. Aku tidak sedang merencanakan kejahatan. Aku juga tidak hamil di luar nikah. Aku cuma mahasiswa yang berjuang memperoleh ijazah yang sedang mengalami kegagalan di eksperimen. Sebegitu besar kesalahanku?

Baiklah jika begitu. Jika memang tidak ada lagi tempat untukku di sini, aku masih punya ibu pertiwi yang dengan senang hati menerimaku kembali. Aku yakin dengan diriku. Malu? Ah itu kan katamu. Sekali lagi aku tidak sedang melakukan kejahatan atau tindak kriminal. Aku juga tidak melakukan perbuatan asusila. Aku hanyalah mahasiswa yang sedang berusaha mendapatkan hasil penelitian yang terbaik. Namun jika itu dianggap suatu kesalahan besar, maka dengan rela hati aku akan pergi. Tak perlu sedu sedan itu lagi.


-curahan hati seorang mahasiswa master semester 3-

Saturday, December 15, 2012

Terima kasih untuk Kata

Malam ini aku sendiri lagi. Seperti Sabtu malam sebelumnya. Ah aku memang sering sendiri di akhir pekan. Ditemani buku2, para smurf di Smurf Village ku dan sesekali televisi. Kadang iri dengan mereka yang bisa pergi kemana dengan siapa pada akhir pekan. Aku pun pernah begitu. Merasakan pergi kemana yang aku mau. Dengan siapa pun yang aku mau.

Namun aku tidak mau tenggelam dalam kesedihanku. Aku punya teman yang sangat setia. Kamu. Kata-kata. Kata adalah teman yang paling setia. Aku bisa menemukanmu di buku-buku yang tak pernah meninggalkanku. Bahkan kapan saja aku bisa merangkaimu untuk melampiaskan segala rasa di hatiku. Seperti saat ini.

Membaca adalah menemukan rasa dalam kata. Menulis adalah menyebarkan rasa melalui kata. Karena kata adalah tentang rasa. Rasa senang yang tak terkira sampai rasa sakit yang mendera. Semua bisa diungkapkan melalui kata. Tidak salah jika aku mengagungkan kata.

Terima kasih untuk kata. Kata yang telah menemaniku. Selalu.

:)

Friday, August 3, 2012

Being a Stalker from a Book "Twivortiare"


Judul Buku                : Twivortiare
Penulis                     : Ika Natassa
Penerbit                   :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit             : 2012
Jumlah Halaman       : 355 hal 
Harga                        : Rp 50.000,00



Can you love and hate someone at the same time?

Buku kelima Ika Natassa ini akan menjawab pertanyaan tersebut. Tokoh Alexandra Rhea Wicaksono  yang sebelumnya kita kenal di Divortiare muncul kembali di dunia maya melalui account twitter-nya @alexandrarheaw. Segala aktivitas dan perasaannya tercurah melalui kicauannya hari demi hari setelah re-marriage nya dengan Dokter Beno. Kehidupan Alexandra yang terekam dalam social network ini sejak tanggal 23 Januari 2011 sampai dengan 4 Maret 2012 disatukan menjadi suatu cerita utuh.

Membaca buku ini seperti sedang stalking kehidupan seseorang tanpa perlu melakukan interogasi verbal. Cukup dengan mengikuti percakapan di timeline @alexandrarheaw yang terkadang berbalasan dengan sahabatnya, @winasoedarjo, kita tahu apa yang terjadi dan apa yang dirasakan setiap tokohnya. Ika Natassa begitu berani menggunakan teknik penulisan yang dalam bukunya disebut sebagai 'twitterature' - a smart amalgamation of 'twitter' and 'literature'. Keberaniannya disertai kepiawaian menyampaikan setiap tweet sebagai sebuah curahan hati yang wajar dan tidak berlebihan. Kehidupan metropolis suami-istri Alexandra, seorang banker di puncak karir, dan Beno, seorang dokter bedah handal, yang penuh kesibukan dengan latar Ibukota Jakarta menjadi topik utama. Segala permasalahan dan penyelesaiannya yang terkadang kita alami sendiri sedikit banyak mengusik nurani kita. Memandang permasalahan dari sudut pandang yang berbeda akan membawa kita pada kedewasaan.

Tidak seorang pun akan menyangka bahwa Alexandra hanyalah tokoh fiksi (saat pertama kali menemuinya di dunia maya). Timeline nya tidak hanya diisi curahan hati karena kebahagiaan, kekesalan atau pun amarah. Beberapa quote Paulo Coelho, puisi Sapardi Djoko Damono dan Pablo Neruda pun menghiasi tweet Alexandra. Pada akhirnya disadari bahwa hidup tidaklah sempurna. Dan di tengah ketidaksempurnaan  itulah, kita sendiri yang mampu membuatnya indah. Warna-warni kehidupan terasa jelas dalam keseharian sang tokoh.

Terkadang cinta dan benci dapat terjadi pada waktu yang bersamaan terhadap orang yang sama. Dan tidak semua orang menyadari itu. Termasuk Alexandra dan Beno. Bagaimana sebenarnya kisah pernikahan kedua mereka?

Novel Metropop dengan tebal 355 halaman ini tidak akan membuat Anda bosan. Karena dalam satu halaman saja Anda dapat tersenyum, tertawa terbahak-bahak atau bahkan menangis terharu.

Happy reading!!!





Wednesday, August 1, 2012

Tentang Murid Negeri Sakura

Just write this poetry spontaneously when I know the fact in front of my face


Seorang lelaki datang
Dari Negeri Sakura nan megah
Dia berguru cemerlang
Terbaik dari yang baik

Lelaki datang dengan kertas berharga
Bukti kecemerlangan
Kepandaian hitam di atas putih
Mencari masa depan

Entah apa tujuannya
Tuluskah mengabdi kepada negara?
Atau mengejar keping-keping kebahagiaan?
Atau demi pandangan sekitar?

Dia berjalan tegap
Mengangkat dagu
Wajahnya berkata, "Saya bisa segalanya"
"Saya juaranya"

Hingga di suatu titik
Ketika dia terjatuh
Tangan sang petinggi mengangkatnya 
Bertanya lembut dan tersenyum
"Apa kabar ayahmu sang sahabat lamaku?"

Lelaki pun mendapat kursi emas
Indah nan rapuh
Cemerlang nan busuk
Hanya Tuhan  yang tahu

Kisah di Sebuah Kantor

Ruangan terasa lengang
Udara merebak dari pendingin
Mengalirkan rasa segala penjuru

Ruangan ini dingin
Ketika tiada lagi karya dikejar
Tak ada lagi waktu bergejolak

Lain hari ini lain kemarin
Kemarin penuh deru langkah kesibukan
Merangkai kata dan berencana

Kini sepi melanda
Namun kelegaan terasa
Cukup menunggu takdir Sang Kuasa

Tuesday, July 31, 2012

Catatan Kecil untuk Ibukota


Terserak di tengah perjalanan
Kepadatan yang tak terungkap
Takkan berujung di penghujung
Menepi bahkan tak mampu

Hanya tatapan kosong
Cukuplah segala lelah peluh
Menatap nanar sekitar
Hati pun berputus asa

Ibukota
Inilah kau yang kukenal
Yang dijajaki manusia setiap hari
Hingga lelah memohon
Tetaplah kau
Sang Ibukota

Sunday, July 15, 2012

Kamu dan Hariku

Tahukah kamu tentang pagi?
Detik dimana surya mulai berseri
Memberi kehidupan bagi segala arti

Kamu seperti pagi
Tak pernah berhenti memberi
Cahaya terang bagi sang hati

Ingatkah kamu akan siang?
Saat semangat telah membara
Kekuatan membakar asa

Kamu adalah siang
Terus menjaga tanpa padam
Mengabulkan segala harapan

Bagaimana dengan senja?
Batas khayal akan dunia
Keindahan surga dalam kedipan mata

Kamulah senjaku
Tempat segala bahagia dan air mataku
Saat dimana aku merindu

Ada apa dengan malam?
Bulan erat merengkuh bintang
Menepis peluh segala lelah

Kamu bagaikan malam
Tempat sandaran segala rasa
Detik memetik segala cinta

Kamu segala waktuku
Kamu seluruh hariku
Pagi, siang, senja hingga malam pun
Aku tahu hanya kamu
Mengisi hariku dengan selalu
Segala senyum nyanyian syahdu

Itu kamu...

Tuesday, June 26, 2012

Puisi untuk Sahabat --- Sahabat untuk Ayah Bunda


Puisi pesanan seorang sahabat yang akan menikah minggu ini, dan saya pun ikut menangis ketika menulisnya. Sedang membayangkan saya ada di posisinya, mengucapkan terima kasih dan memohon doa restu untuk membangun rumah tangga baru, meninggalkan orang tua menjadi manusia baru yang mandiri, membentuk keluarga sendiri. Anyway, segala doa untukmu sahabatku. :)
 


Dua puluh empat tahun telah terlewati.
Aku, sang putri yang beranjak dewasa.
Berjalan meniti masa depan di antara segala gelombang yang menghadang.
Perlahan, jejak rekam masa lalu mulai terbias dalam angan.
Mengingatmu, dirimu dan segala kasih sayangmu.
Sejak aku belum mampu mengingatmu.
Namun mampu merasakan sentuh cintamu.
Sejak kurasakan belai kasihmu.
Dan segala pengajaranmu yang untuk aku.
Pahit manis hidup bersamamu.
Aku adalah tetap putrimu.
Dengan kurang dan lebihku.
Dengan kurang dan lebihmu.

Ayah, Bunda.
Laksana malaikat penjaga yang tak pernah lelah.
Pemberi semangat dalam tiap titik nadiku.
Bagaikan lentera dalam kegelapan hidupku.
Sebagai pegangan dalam ayunan langkahku.
Menjadi penopang dalam rapuhku.
Penghapus air mata dalam tangisku.
Ada selalu dalam susah sukaku.

Sekalipun kukumpulkan banyak harta, takkan terbayar jasamu.
Sekalipun kukorbankan seluruh kehidupanku, takkan tertandingi pengorbananmu.
Sekalipun kuserahkan seisi dunia untukmu, takkan mampu membalas semua yang kau beri untukku.

Betapa beruntungnya aku memilikimu, lahir dari rahimmu, Bunda, dan menjadi putrimu, Ayah.
Dibesarkan dan dijaga setiap detik yang berlalu.
Hingga pada hari ini, aku berdiri tegar memohon restu kepadamu.

Memohon kembali segala doa dan restu bagi anakmu untuk melangkah lagi.
Melangkah ke kehidupan yang baru.
Melangkah menuju jenjang yang dinanti, jenjang yang pasti.
Melangkah dalam pernikahan suci dengan dia yang kau restui.
Ijinkan aku, anakmu untuk membangun mahligai cinta dalam siraman doamu yang tiada henti.
Membangun cinta dan kasih dalam naungan Sang Ilahi.

Mohon doa untuk ketegaran menghadapi setiap cobaan.
Agar kami miliki semangat hidup tatkala didera derita.
Ajar kami sesabar dirimu manakala menemui angkara.
Supaya kami menjadi teladan seperti dirimu dalam membimbing dan mengajarku, anakmu.

Aku, putrimu.
Hanya dapat berlutut di hadapmu.
Dalam lantunan doaku pun kulagukan namamu.
Memohon yang terbaik bagimu.
Saat ku cium tanganmu, ku mohon restumu selalu.
Doamu adalah anugerah bagiku.
Doamu bagi kehidupan baruku.
Doamu bagi jalan baru yang ‘kan kulalui

Ayah, Bunda.
Segala terima kasih untukmu.
Segala cinta bagimu.
Terlebih doaku selalu untukmu hingga akhir hayatku.

Tuesday, April 17, 2012

Titik Lelahku Berlari

Kadang aku lelah berlari. 
Berlari hingga berpeluh hari. 
Sengatan bulan pun terasa menyakitkan. 
Terlebih matahari yang kejam menerpa.
 
Aku berlari dengan kepalaku. 
Di saat kaki sudah tak mampu lagi berkata. 
Mengerahkan segala daya. 
Hingga hilang semua rasa.
 
Aku sudah lama berlari. 
Sejak aku belajar berlari. 
Hingga mahir jurus berlari. 
Berlari dengan tangan. 
Berlari dengan kepala. 
Berlari dengan mata dan telinga. 

Aku selalu berlari. 
Berlari dengan segala hati. 
Berlari dengan seluruh.

Hingga di suatu titik.
Aku lelah. 
Aku berhenti. 
Berhenti sejenak inginku. 
Menikmati sang bayu sambil memandang ke depan.

Aku berada di persimpangan. 
Kemana harus kembali berlari?
Ataukah cukup ku berhenti di sini. 

Menikmati sejuk rimbun musim semi. 
Tidak bergerak.
Aku seperti hilang. 
Terdiam. 
Terhenti.
Kosong. 

Aku hampa. 
Menanti jawaban hati. 
Yang lelah berlari.

Monday, March 19, 2012

Percayakah Kamu Bahwa Segala Sesuatu Diciptakan 2 Kali?


Judul Buku                : 2
Penulis                      : Donny Dhirgantoro
Penerbit                    : Grasindo
Tahun terbit               : 2011
Jumlah Halaman         : 418 hal + vi
Harga                        : Rp 60.000,00


Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tak pernah sempurna.

Gusni Annisa Puspita. Anak ke dua dari sebuah keluarga kecil yang bahagia. Dilahirkan dengan berat badan di atas rata-rata. Bahkan saat masih bayi disebut sebagai bayi raksasa. Ia terus tumbuh dengan berat badan yang terus naik, tidak pernah sekali pun turun. Namun keceriaan tidak pernah lepas dari hidupnya. Kasih sayang dari keluarga terus mengalir dalam dirinya. Dari Papa, Mama dan kakaknya, Gita Annisa Srikandi, seorang atlet bulutangkis nasional.

Sunday, March 18, 2012

Untuk Sang Pencinta Hujan


Aku bermimpi. Ah. Tidak. Ini bukan mimpi. Aku tahu yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Beberapa saat yang lalu kau masih tersenyum. Saat itu belum hujan. Belum ada tangisan. Kau masih tertawa untukku. Kau masih berkata kangen. Kau masih berucap rindu yang tiada terputus. Dan kau tidak berhenti mengucapkan cinta. Namun secepat cahaya berpindah, pun hatimu. Pun dirimu. Detik bergulir sejak saat itu hingga kau memutuskan mimpi buruk itu. Mungkin bukan kau yang memutuskan. Mungkin ini keputusan Yang Di Atas. Aku tidak percaya kebetulan. Aku tahu segala sesuatu diaturNya dalam waktuNya. Hanya Dia yang tahu. 

Aku hanya bisa menangis. Terlalu jujur. Namun ini aku. Ini kelemahanku. Kamu. Kamu kelemahanku. Kamu yang mampu menepis ketegaranku hingga titik batas kekuatanku. Hingga aku jatuh dan hanya bertemankan bulir air mata. Aku tertidur. Lelap tidak lelap. Tidur sambil menangis. Menyesali. Namun tidak bisa memutar waktu.

Pukul tiga dini hari. Saat para setan sedang berkeliaran menawarkan hati para manusia, begitu kata mereka. Aku terbangun oleh suara. Seperti sesuatu yang dari langit. Air. Air yang bertriliyun jumlahnya dijatuhkan langit padaku. Apa maksudnya? Agar aku terbangun? Agar aku menangis lagi? Sudah cukup. Aku sudah menangis semalam. Apa aku harus melanjutkannya? Menyesali. Namun tidak bisa memutar waktu.



Aku berharap ini mimpi. Namun aku tahu ini bukan mimpi. Dini hari yang hujan. Bagaikan firasat atas tangisan. Aku rindu. Kau selalu bilang kau mencintai hujan. Kau suka bau tanah. Kau suka mendengar suara hujan. Namun hujan ini berbeda. Hujan yang menangis. Bukan hujan yang kau cintai. Hujan mengingatkanku akan sakit. Aku yang tertinggal. Namun hatiku pun masih tertinggal. Entah dimana, kau pun tahu, tak perlu kusebutkan. 

Aku bersimpuh. Di tengah ketenangan malam yang menuju pagi. Kembali berderai air mata. Aku menyerahkan kembali kepadaNya. Aku milikMu. Dia milikMu. Bukan hakku atas dia. HakMu lah sepenuhnya. Aku tidak boleh sakit hati. Tidak boleh menyalahkan siapa pun. Aku harus ikhlas.

Kulantunkan bait-bait doa dengan linangan air mata dan kepasrahan diri. Aku tidak pernah menginginkan kepergianmu. Namun jika itu yang terbaik, aku harus ikhlas. Jika kau lebih bahagia, aku rela. Mungkin bahagiaku bukan denganmu.

Doa ku akhiri. 
Biarlah kehendakMu yang jadi, bukan kehendakku. Amin.

Thursday, March 1, 2012

Perempuan di Sudut Pantry

Sepenggal kisah singkat yang kulihat hari ini dan tanpa pikir panjang kutuangkan dalam sebuah tulisan. 

Pada jam istirahat kantor di hari Jumat di mana para lelaki muslim sedang melaksanakan Sholat Jumat, aku melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Di pantry kantorku yang berada di lantai 22 di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Pusat. Aku baru saja menyelesaikan makan siangku  dengan nasi merah dan aku berjalan membawa tupperware berwarna hijau ke pantry untuk mengambil air minum. Di sinilah biasanya kulihat para lelaki sedang duduk santai, melepas kejenuhan pekerjaan, membicarakan isu politik, berdiskusi dengan topik ringan sampai topik berat yang menyangkut urusan negara dan pemerintahan, berbagi cerita keluarga, mengenang pengalaman ketika bersekolah di luar negeri bertahun-tahun yang lalu dan sebagainya - yang tentu saja tidak dapat aku ingat satu per satu - sambil merokok. Ya, rokok. Bagi para lelaki ini, rokok tentu memberikan suatu perasaan tenang dan menyenangkan di kala penat akibat load pekerjaan sedang meningkat. Para lelaki merokok. Mulai dari lelaki yang sudah seumur dengan papaku hingga lelaki yang seumur denganku bahkan yang lebih muda dariku. Sudah biasa kulihat (di sini) - karena di tempat lain aku sudah biasa melihat yang selain lelaki merokok. Akan tetapi di sini, di pantry kantor ini, belum pernah sekalipun aku melihat perempuan merokok. Hingga siang ini aku melihatnya. Seorang perempuan sedang merokok di pantry. Ketika melihatku, dia hanya tersenyum sambil terus menghisap batang rokoknya. Aku pun membalasnya dengan senyum.

Tahukah dirimu aku tiba-tiba saja mengaguminya? 

Aku sangat kagum pada perempuan yang merokok. Perempuan yang punya keberanian untuk menjadi berbeda. Perempuan yang  punya keberanian untuk menentang budaya lokal yang seolah-olah membatasi perempuan untuk berekspresi dan melakukan apa yang mereka suka. Perempuan juga berhak untuk memilih. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang baik dan mana yang benar. Merokok pun juga merupakan pilihan, jangan pernah menjadikannya sebuah larangan ketika hal tersebut dilakukan tanpa mengganggu kepentingan publik. Seperti perempuan yang kuceritakan ini. Aku yakin karena dia adalah perempuan, dia punya perasaan yang lebih peka dibandingkan para lelaki. Mungkin para lelaki akan merokok seenaknya tanpa memikirkan di mana dia dan ada siapa saja di sekitarnya. Berbeda dengan perempuan yang akan lebih berhati-hati untuk bertindak salah satunya dalam hal merokok. Tentu saja perempuan akan merokok di tempat yang memang diijinkan dan tidak mengganggu orang lain yang tidak tahan terhadap asap rokok. Itulah kelebihan perempuan. Perempuan yang merokok. Mungkin banyak yang berpikiran negatif tentangnya. Namun tidak denganku. Karena sekali lagi kukatakan bahwa aku kagum. Kagum pada sesosok perempuan yang merokok di sudut pantry siang ini yang bahkan namanya pun aku tidak tahu. 

Tuesday, February 28, 2012

Mengarungi Rumah di Seribu Ombak


Judul        : Rumah Di Seribu Ombak
Penulis      : Erwin Arnada
Penerbit     : Gagas Media
Tahun terbit : 2011
Jumlah hal   : 385 hal + VIII
Harga        : Rp 55.000,00
 



Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut?
Semata agar kita tahu, dalam perbedaaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.


Singaraja. Sebuah kota di Pulau Bali yang menyimpan cerita tentang indahnya toleransi dalam kehidupan yang penuh dengan perbedaan. Samihi, seorang anak laki-laki muslim yang tinggal bersama ayah dan adik perempuannya, Syamimi. Samihi memiliki kisah traumatis dengan air karena airlah yang telah merenggut nyawa kakaknya, Sabri. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang anak laki-laki asli Bali, Wayan Manik, atau lebih akrab disapa Yanik. Yanik begitu bertolak belakang dengannya. Yanik hidup dari air dan sejak kecil dikelilingi air. Yanik menjadi sahabatnya, juga sahabat dan kakak bagi Syamimi, bahkan sudah melebihi saudara, tanpa memandang perbedaan di antara mereka. Yanik yang menolongnya dari anak-anak nakal di suatu pagi di bulan ramadhan, membantunya belajar cara mekidung sampai ia bisa memenangkan lomba Qiraah, bahkan mengajarinya berenang dan melupakan rasa takutnya akan air. 

Namun kejadian bom bali pada November 2002 telah mengoyak harmoni di antara mereka, bahkan harmoni seluruh aspek kehidupan di Pulau Bali. Ayah Yanik yang meninggalkan ibunya lalu menikah dengan wanita lain menjadi salah satu korban dalam peristiwa menyedihkan itu. Yanik sendiri menjadi korban seorang warga negara Australia yang memiliki kelainan. Begitu bertubi-tubi penderitaan Yanik, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Singaraja, pergi mengasing bersama Meme nya yang sudah sakit-sakitan. Samihi pun kembali dalam kesendirian hingga ia menemukan passion hidupnya yang berkebalikan dengan ketakutan masa kecilnya akan air, yaitu menjadi peselancar. Bakatnya ditemukan oleh Komang Satria, pemilik Satria Surf Camp (SSC) yang kemudian memberinya beasiswa sekolah surfing profesional di Australia.

Tahun berganti. Syamimi pun tumbuh dewasa dan dengan suatu keajaiban bertemu kembali dengan sahabat kakaknya, yaitu Yanik yang telah kembali ke Singaraja. Mereka sama-sama merasakan suatu perasaan indah yang akhirnya diungkapkan Yanik di tengah samudra saat matahari tinggal seperempat hidupnya. Mereka tahu perasaan mereka sama, namun mereka masih ragu. Bagaimana pandangan keluarga? Bagaimana soal perbedaan kepercayaan? Namun setidaknya mereka telah mendapatkan bahagia mereka dengan memiliki perasaan itu. 

Kisah ini ditulis dengan indah oleh Erwin Arnada, big bos dari majalah Playboy Indonesia. Novel Rumah di Seribu Ombak ini diselesaikan ketika ia dipenjara atas kasus majalah PlayboyKehidupan keseharian anak-anak Bali ditulis secara wajar namun mengesankan. Kehidupan sosial di tengah keberagaman masyarakat Muslim dan Hindu juga dituliskan dengan apik. Setiap karakter dituliskan secara kuat. Alur yang runtut membuat cerita ini mengalir dengan indah hingga pada puncaknya menemukan "rumah di seribu ombak" itu sendiri. 

Novel ini penuh dengan makna dan sarat akan pelajaran hidup yang patut untuk diteladani. Nilai-nilai persahabatan, toleransi dan hidup damai di tengah perbedaan menjadi menu utama. Alangkah indahnya jika kita dapat hidup dengan saling menghargai satu sama lain. Adapun kelemahan novel ini yaitu pada editor naskah dimana masih sering ditemui kesalahan ketik dalam penggunaan spasi, tanda baca dan penempatan huruf kapital. 

Bagaimana kisah selengkapnya? Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, bukan hanya sekedar hiburan, namun juga pembelajaran tentang kehidupan yang tidak selalu tenang, namun akan selalu ada ombak baik yang kecil maupun yang besar. Mari bersama-sama mengarungi Rumah di Seribu Ombak. Selamat membaca!

Thursday, February 23, 2012

Cinta Itu Meminta Syarat


...
People say I’m crazy and that I’m blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can’t get you out of my head
Don’t care what is written  in your history
As long as you’re here with me

I don’t care who you are
Where you’re from
What you did
As long as you love me
...

Aku sedang di kamar menemukan sebuah undangan pernikahan ketika kudengar kembali lagu ini. Fernando Rahadian dan Priscila Anita. Anganku kembali melayang pada masa itu. Masa SMA. Cinta SMA.

***

Semua orang berkata bahwa cinta masa SMA adalah cinta monyet. Cinta main-main. Namun tidak denganku. Aku berpikir sebaliknya. Cintaku di masa SMA adalah cinta sejati. Aku mencintai dengan hati, tanpa memandang latar belakang, materi, dan apa pun yang ada di dalam diri orang yang kucintai. Aku mencintai tanpa alasan. Aku mencintai karena cinta. Tanpa syarat. Love, unconditional.

Tuhan Tidak Tidur


Matahari sudah tinggi saat Keira baru saja terbangun dari mimpi. Dia bermimpi menghadiri sebuah pesta pernikahan yang megah. Samar-samar Keira mengenal siapa pengantin pria. Keira melihat  pengantin itu sedang dirias di pelaminan. Dia  ingin melihat lebih siapa gerangan sang pengantin pria. Namun bunyi jam weker terlanjur menariknya pergi. Sejenak Keira berusaha mengingat apa yang ada dalam mimpinya. Namun pagi ini adalah pagi yang terburu-buru. Terlalu singkat waktu yang dia miliki untuk mencerna mimpi. Namun waktu yang cukup untuk mengambil handphone dan mengetik di twitter.

Mimpi yang aneh. Seorang pengantin pria sedang dirias di pelaminannya.

Monday, February 20, 2012

[ Lomba Fiksi Fantasy 2012 ] [Sul dan Nat]

(Keyword: Pasar malam, pohon pisang, gula-gula, cerpelai, polkadot)

Ruangan putih. Para manusia berjubah putih itu memanggilnya laboratorium. Laboratorium yang berada di sebuah tempat terpencil dan dikelilingi puluhan pohon pisang. Aku tidak tahu mengapa di tempat ini dibangun laboratorium dengan berbagai peralatan canggih yang konon diimpor dari daerah yang sama dengan asalku. Padahal jika kau tahu, di antara dinding dan bagian punggung peralatan itu hiduplah gerombolan cerpelai yang merasa nyaman dengan suasana ruangan ini. mungkin cerpelai pun rindu dengan modernisasi. Mereka selamanya memakan ular, namun tidak selamanya mereka ingin hidup di antara semak belukar dan sawah yang becek.

Aku melihat dari balik lensa yang gelap berwarna kuning kecoklatan. Itulah lensa yang harus selalu kukenakan. Lensa itulah pakaianku. Ada maksud di balik penggunaan pakaian lensa berwarna itu, yaitu agar cahaya surya tidak menembusku. Cahaya surya dengan suhu yang cukup tinggi akan membahayakan hidupku.

Sunday, February 19, 2012

One Moment In Time With You

I want one moment in time
When I'm more than I thought I could be
When all of my dreams are a heartbeat away
And the answers are all up to me
Give me one moment in time
When I'm racing with destiny
Then in that one moment of time
I will feel
I will feel eternity

Entah sihir apa yang menyebabkan penyiar radio itu memutar lagu lama ini. Lagu Whitney Houston yang berjudul One Moment in Time. Anganku melayang pada kisahku di akhir masa putih abu-abu. Mengingatkanku akan ambisi masa muda yang menggebu-gebu. Dan mengingatkanku pada dirimu.
***

Thursday, February 16, 2012

Untuk Lelakiku

Bukan sekedar kata-kata manis, Sayang...
Engkau yang hanya dapat kupandangi dari selembar kertas
Raut wajahmu membawa keceriaan
Namamu yang mengingatkanku pada bahagia
Ada yang salah dengan hatiku
Di saat jarak menjadi sangat berkuasa
Untuk setiap detiknya
Sendiri menjadi terasa sepi


Ruang hatiku kini telah penuh sesak
Ingin ku berteriak agar kau tahu itu
Oh lelakiku...


Waktu terus melayangkan sayapnya
Ingatkah kau akan hari ini?
Cermin waktu terus berpantulan

Angka ajaib terus bergerak perlahan namun pasti
Kau yang menjadi bintang hari ini
Selamat ulang tahun, ingin ku ucap hanya untukmu
Orang boleh bertutur bagaimana
Namun aku yang paling mengertimu
Oh my birthday man..