d sWeetY cHubBy

d sWeetY cHubBy

welcome 2 my bloG....

This blog is my mirror..
It represents my purpose and my passion,
I juz need to share all of my experience, what in my mind, all i want, all I need, and everything about me..
May be it can be my diary,
also my thankful book,
my reminder and my heart alarm,
and many more.


so juZ read it and teLL me what do you thinK about me..............

^-^

Tuesday, April 17, 2012

Titik Lelahku Berlari

Kadang aku lelah berlari. 
Berlari hingga berpeluh hari. 
Sengatan bulan pun terasa menyakitkan. 
Terlebih matahari yang kejam menerpa.
 
Aku berlari dengan kepalaku. 
Di saat kaki sudah tak mampu lagi berkata. 
Mengerahkan segala daya. 
Hingga hilang semua rasa.
 
Aku sudah lama berlari. 
Sejak aku belajar berlari. 
Hingga mahir jurus berlari. 
Berlari dengan tangan. 
Berlari dengan kepala. 
Berlari dengan mata dan telinga. 

Aku selalu berlari. 
Berlari dengan segala hati. 
Berlari dengan seluruh.

Hingga di suatu titik.
Aku lelah. 
Aku berhenti. 
Berhenti sejenak inginku. 
Menikmati sang bayu sambil memandang ke depan.

Aku berada di persimpangan. 
Kemana harus kembali berlari?
Ataukah cukup ku berhenti di sini. 

Menikmati sejuk rimbun musim semi. 
Tidak bergerak.
Aku seperti hilang. 
Terdiam. 
Terhenti.
Kosong. 

Aku hampa. 
Menanti jawaban hati. 
Yang lelah berlari.

Monday, March 19, 2012

Percayakah Kamu Bahwa Segala Sesuatu Diciptakan 2 Kali?


Judul Buku                : 2
Penulis                      : Donny Dhirgantoro
Penerbit                    : Grasindo
Tahun terbit               : 2011
Jumlah Halaman         : 418 hal + vi
Harga                        : Rp 60.000,00


Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tak pernah sempurna.

Gusni Annisa Puspita. Anak ke dua dari sebuah keluarga kecil yang bahagia. Dilahirkan dengan berat badan di atas rata-rata. Bahkan saat masih bayi disebut sebagai bayi raksasa. Ia terus tumbuh dengan berat badan yang terus naik, tidak pernah sekali pun turun. Namun keceriaan tidak pernah lepas dari hidupnya. Kasih sayang dari keluarga terus mengalir dalam dirinya. Dari Papa, Mama dan kakaknya, Gita Annisa Srikandi, seorang atlet bulutangkis nasional.

Sunday, March 18, 2012

Untuk Sang Pencinta Hujan


Aku bermimpi. Ah. Tidak. Ini bukan mimpi. Aku tahu yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Beberapa saat yang lalu kau masih tersenyum. Saat itu belum hujan. Belum ada tangisan. Kau masih tertawa untukku. Kau masih berkata kangen. Kau masih berucap rindu yang tiada terputus. Dan kau tidak berhenti mengucapkan cinta. Namun secepat cahaya berpindah, pun hatimu. Pun dirimu. Detik bergulir sejak saat itu hingga kau memutuskan mimpi buruk itu. Mungkin bukan kau yang memutuskan. Mungkin ini keputusan Yang Di Atas. Aku tidak percaya kebetulan. Aku tahu segala sesuatu diaturNya dalam waktuNya. Hanya Dia yang tahu. 

Aku hanya bisa menangis. Terlalu jujur. Namun ini aku. Ini kelemahanku. Kamu. Kamu kelemahanku. Kamu yang mampu menepis ketegaranku hingga titik batas kekuatanku. Hingga aku jatuh dan hanya bertemankan bulir air mata. Aku tertidur. Lelap tidak lelap. Tidur sambil menangis. Menyesali. Namun tidak bisa memutar waktu.

Pukul tiga dini hari. Saat para setan sedang berkeliaran menawarkan hati para manusia, begitu kata mereka. Aku terbangun oleh suara. Seperti sesuatu yang dari langit. Air. Air yang bertriliyun jumlahnya dijatuhkan langit padaku. Apa maksudnya? Agar aku terbangun? Agar aku menangis lagi? Sudah cukup. Aku sudah menangis semalam. Apa aku harus melanjutkannya? Menyesali. Namun tidak bisa memutar waktu.



Aku berharap ini mimpi. Namun aku tahu ini bukan mimpi. Dini hari yang hujan. Bagaikan firasat atas tangisan. Aku rindu. Kau selalu bilang kau mencintai hujan. Kau suka bau tanah. Kau suka mendengar suara hujan. Namun hujan ini berbeda. Hujan yang menangis. Bukan hujan yang kau cintai. Hujan mengingatkanku akan sakit. Aku yang tertinggal. Namun hatiku pun masih tertinggal. Entah dimana, kau pun tahu, tak perlu kusebutkan. 

Aku bersimpuh. Di tengah ketenangan malam yang menuju pagi. Kembali berderai air mata. Aku menyerahkan kembali kepadaNya. Aku milikMu. Dia milikMu. Bukan hakku atas dia. HakMu lah sepenuhnya. Aku tidak boleh sakit hati. Tidak boleh menyalahkan siapa pun. Aku harus ikhlas.

Kulantunkan bait-bait doa dengan linangan air mata dan kepasrahan diri. Aku tidak pernah menginginkan kepergianmu. Namun jika itu yang terbaik, aku harus ikhlas. Jika kau lebih bahagia, aku rela. Mungkin bahagiaku bukan denganmu.

Doa ku akhiri. 
Biarlah kehendakMu yang jadi, bukan kehendakku. Amin.

Thursday, March 1, 2012

Perempuan di Sudut Pantry

Sepenggal kisah singkat yang kulihat hari ini dan tanpa pikir panjang kutuangkan dalam sebuah tulisan. 

Pada jam istirahat kantor di hari Jumat di mana para lelaki muslim sedang melaksanakan Sholat Jumat, aku melihat pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Di pantry kantorku yang berada di lantai 22 di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Jakarta Pusat. Aku baru saja menyelesaikan makan siangku  dengan nasi merah dan aku berjalan membawa tupperware berwarna hijau ke pantry untuk mengambil air minum. Di sinilah biasanya kulihat para lelaki sedang duduk santai, melepas kejenuhan pekerjaan, membicarakan isu politik, berdiskusi dengan topik ringan sampai topik berat yang menyangkut urusan negara dan pemerintahan, berbagi cerita keluarga, mengenang pengalaman ketika bersekolah di luar negeri bertahun-tahun yang lalu dan sebagainya - yang tentu saja tidak dapat aku ingat satu per satu - sambil merokok. Ya, rokok. Bagi para lelaki ini, rokok tentu memberikan suatu perasaan tenang dan menyenangkan di kala penat akibat load pekerjaan sedang meningkat. Para lelaki merokok. Mulai dari lelaki yang sudah seumur dengan papaku hingga lelaki yang seumur denganku bahkan yang lebih muda dariku. Sudah biasa kulihat (di sini) - karena di tempat lain aku sudah biasa melihat yang selain lelaki merokok. Akan tetapi di sini, di pantry kantor ini, belum pernah sekalipun aku melihat perempuan merokok. Hingga siang ini aku melihatnya. Seorang perempuan sedang merokok di pantry. Ketika melihatku, dia hanya tersenyum sambil terus menghisap batang rokoknya. Aku pun membalasnya dengan senyum.

Tahukah dirimu aku tiba-tiba saja mengaguminya? 

Aku sangat kagum pada perempuan yang merokok. Perempuan yang punya keberanian untuk menjadi berbeda. Perempuan yang  punya keberanian untuk menentang budaya lokal yang seolah-olah membatasi perempuan untuk berekspresi dan melakukan apa yang mereka suka. Perempuan juga berhak untuk memilih. Mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang baik dan mana yang benar. Merokok pun juga merupakan pilihan, jangan pernah menjadikannya sebuah larangan ketika hal tersebut dilakukan tanpa mengganggu kepentingan publik. Seperti perempuan yang kuceritakan ini. Aku yakin karena dia adalah perempuan, dia punya perasaan yang lebih peka dibandingkan para lelaki. Mungkin para lelaki akan merokok seenaknya tanpa memikirkan di mana dia dan ada siapa saja di sekitarnya. Berbeda dengan perempuan yang akan lebih berhati-hati untuk bertindak salah satunya dalam hal merokok. Tentu saja perempuan akan merokok di tempat yang memang diijinkan dan tidak mengganggu orang lain yang tidak tahan terhadap asap rokok. Itulah kelebihan perempuan. Perempuan yang merokok. Mungkin banyak yang berpikiran negatif tentangnya. Namun tidak denganku. Karena sekali lagi kukatakan bahwa aku kagum. Kagum pada sesosok perempuan yang merokok di sudut pantry siang ini yang bahkan namanya pun aku tidak tahu. 

Tuesday, February 28, 2012

Mengarungi Rumah di Seribu Ombak


Judul        : Rumah Di Seribu Ombak
Penulis      : Erwin Arnada
Penerbit     : Gagas Media
Tahun terbit : 2011
Jumlah hal   : 385 hal + VIII
Harga        : Rp 55.000,00
 



Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut?
Semata agar kita tahu, dalam perbedaaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.


Singaraja. Sebuah kota di Pulau Bali yang menyimpan cerita tentang indahnya toleransi dalam kehidupan yang penuh dengan perbedaan. Samihi, seorang anak laki-laki muslim yang tinggal bersama ayah dan adik perempuannya, Syamimi. Samihi memiliki kisah traumatis dengan air karena airlah yang telah merenggut nyawa kakaknya, Sabri. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang anak laki-laki asli Bali, Wayan Manik, atau lebih akrab disapa Yanik. Yanik begitu bertolak belakang dengannya. Yanik hidup dari air dan sejak kecil dikelilingi air. Yanik menjadi sahabatnya, juga sahabat dan kakak bagi Syamimi, bahkan sudah melebihi saudara, tanpa memandang perbedaan di antara mereka. Yanik yang menolongnya dari anak-anak nakal di suatu pagi di bulan ramadhan, membantunya belajar cara mekidung sampai ia bisa memenangkan lomba Qiraah, bahkan mengajarinya berenang dan melupakan rasa takutnya akan air. 

Namun kejadian bom bali pada November 2002 telah mengoyak harmoni di antara mereka, bahkan harmoni seluruh aspek kehidupan di Pulau Bali. Ayah Yanik yang meninggalkan ibunya lalu menikah dengan wanita lain menjadi salah satu korban dalam peristiwa menyedihkan itu. Yanik sendiri menjadi korban seorang warga negara Australia yang memiliki kelainan. Begitu bertubi-tubi penderitaan Yanik, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Singaraja, pergi mengasing bersama Meme nya yang sudah sakit-sakitan. Samihi pun kembali dalam kesendirian hingga ia menemukan passion hidupnya yang berkebalikan dengan ketakutan masa kecilnya akan air, yaitu menjadi peselancar. Bakatnya ditemukan oleh Komang Satria, pemilik Satria Surf Camp (SSC) yang kemudian memberinya beasiswa sekolah surfing profesional di Australia.

Tahun berganti. Syamimi pun tumbuh dewasa dan dengan suatu keajaiban bertemu kembali dengan sahabat kakaknya, yaitu Yanik yang telah kembali ke Singaraja. Mereka sama-sama merasakan suatu perasaan indah yang akhirnya diungkapkan Yanik di tengah samudra saat matahari tinggal seperempat hidupnya. Mereka tahu perasaan mereka sama, namun mereka masih ragu. Bagaimana pandangan keluarga? Bagaimana soal perbedaan kepercayaan? Namun setidaknya mereka telah mendapatkan bahagia mereka dengan memiliki perasaan itu. 

Kisah ini ditulis dengan indah oleh Erwin Arnada, big bos dari majalah Playboy Indonesia. Novel Rumah di Seribu Ombak ini diselesaikan ketika ia dipenjara atas kasus majalah PlayboyKehidupan keseharian anak-anak Bali ditulis secara wajar namun mengesankan. Kehidupan sosial di tengah keberagaman masyarakat Muslim dan Hindu juga dituliskan dengan apik. Setiap karakter dituliskan secara kuat. Alur yang runtut membuat cerita ini mengalir dengan indah hingga pada puncaknya menemukan "rumah di seribu ombak" itu sendiri. 

Novel ini penuh dengan makna dan sarat akan pelajaran hidup yang patut untuk diteladani. Nilai-nilai persahabatan, toleransi dan hidup damai di tengah perbedaan menjadi menu utama. Alangkah indahnya jika kita dapat hidup dengan saling menghargai satu sama lain. Adapun kelemahan novel ini yaitu pada editor naskah dimana masih sering ditemui kesalahan ketik dalam penggunaan spasi, tanda baca dan penempatan huruf kapital. 

Bagaimana kisah selengkapnya? Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca, bukan hanya sekedar hiburan, namun juga pembelajaran tentang kehidupan yang tidak selalu tenang, namun akan selalu ada ombak baik yang kecil maupun yang besar. Mari bersama-sama mengarungi Rumah di Seribu Ombak. Selamat membaca!

Thursday, February 23, 2012

Cinta Itu Meminta Syarat


...
People say I’m crazy and that I’m blind
Risking it all in a glance
And how you got me blind is still a mystery
I can’t get you out of my head
Don’t care what is written  in your history
As long as you’re here with me

I don’t care who you are
Where you’re from
What you did
As long as you love me
...

Aku sedang di kamar menemukan sebuah undangan pernikahan ketika kudengar kembali lagu ini. Fernando Rahadian dan Priscila Anita. Anganku kembali melayang pada masa itu. Masa SMA. Cinta SMA.

***

Semua orang berkata bahwa cinta masa SMA adalah cinta monyet. Cinta main-main. Namun tidak denganku. Aku berpikir sebaliknya. Cintaku di masa SMA adalah cinta sejati. Aku mencintai dengan hati, tanpa memandang latar belakang, materi, dan apa pun yang ada di dalam diri orang yang kucintai. Aku mencintai tanpa alasan. Aku mencintai karena cinta. Tanpa syarat. Love, unconditional.

Tuhan Tidak Tidur


Matahari sudah tinggi saat Keira baru saja terbangun dari mimpi. Dia bermimpi menghadiri sebuah pesta pernikahan yang megah. Samar-samar Keira mengenal siapa pengantin pria. Keira melihat  pengantin itu sedang dirias di pelaminan. Dia  ingin melihat lebih siapa gerangan sang pengantin pria. Namun bunyi jam weker terlanjur menariknya pergi. Sejenak Keira berusaha mengingat apa yang ada dalam mimpinya. Namun pagi ini adalah pagi yang terburu-buru. Terlalu singkat waktu yang dia miliki untuk mencerna mimpi. Namun waktu yang cukup untuk mengambil handphone dan mengetik di twitter.

Mimpi yang aneh. Seorang pengantin pria sedang dirias di pelaminannya.