d sWeetY cHubBy

d sWeetY cHubBy

welcome 2 my bloG....

This blog is my mirror..
It represents my purpose and my passion,
I juz need to share all of my experience, what in my mind, all i want, all I need, and everything about me..
May be it can be my diary,
also my thankful book,
my reminder and my heart alarm,
and many more.


so juZ read it and teLL me what do you thinK about me..............

^-^

Friday, August 3, 2012

Being a Stalker from a Book "Twivortiare"


Judul Buku                : Twivortiare
Penulis                     : Ika Natassa
Penerbit                   :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit             : 2012
Jumlah Halaman       : 355 hal 
Harga                        : Rp 50.000,00



Can you love and hate someone at the same time?

Buku kelima Ika Natassa ini akan menjawab pertanyaan tersebut. Tokoh Alexandra Rhea Wicaksono  yang sebelumnya kita kenal di Divortiare muncul kembali di dunia maya melalui account twitter-nya @alexandrarheaw. Segala aktivitas dan perasaannya tercurah melalui kicauannya hari demi hari setelah re-marriage nya dengan Dokter Beno. Kehidupan Alexandra yang terekam dalam social network ini sejak tanggal 23 Januari 2011 sampai dengan 4 Maret 2012 disatukan menjadi suatu cerita utuh.

Membaca buku ini seperti sedang stalking kehidupan seseorang tanpa perlu melakukan interogasi verbal. Cukup dengan mengikuti percakapan di timeline @alexandrarheaw yang terkadang berbalasan dengan sahabatnya, @winasoedarjo, kita tahu apa yang terjadi dan apa yang dirasakan setiap tokohnya. Ika Natassa begitu berani menggunakan teknik penulisan yang dalam bukunya disebut sebagai 'twitterature' - a smart amalgamation of 'twitter' and 'literature'. Keberaniannya disertai kepiawaian menyampaikan setiap tweet sebagai sebuah curahan hati yang wajar dan tidak berlebihan. Kehidupan metropolis suami-istri Alexandra, seorang banker di puncak karir, dan Beno, seorang dokter bedah handal, yang penuh kesibukan dengan latar Ibukota Jakarta menjadi topik utama. Segala permasalahan dan penyelesaiannya yang terkadang kita alami sendiri sedikit banyak mengusik nurani kita. Memandang permasalahan dari sudut pandang yang berbeda akan membawa kita pada kedewasaan.

Tidak seorang pun akan menyangka bahwa Alexandra hanyalah tokoh fiksi (saat pertama kali menemuinya di dunia maya). Timeline nya tidak hanya diisi curahan hati karena kebahagiaan, kekesalan atau pun amarah. Beberapa quote Paulo Coelho, puisi Sapardi Djoko Damono dan Pablo Neruda pun menghiasi tweet Alexandra. Pada akhirnya disadari bahwa hidup tidaklah sempurna. Dan di tengah ketidaksempurnaan  itulah, kita sendiri yang mampu membuatnya indah. Warna-warni kehidupan terasa jelas dalam keseharian sang tokoh.

Terkadang cinta dan benci dapat terjadi pada waktu yang bersamaan terhadap orang yang sama. Dan tidak semua orang menyadari itu. Termasuk Alexandra dan Beno. Bagaimana sebenarnya kisah pernikahan kedua mereka?

Novel Metropop dengan tebal 355 halaman ini tidak akan membuat Anda bosan. Karena dalam satu halaman saja Anda dapat tersenyum, tertawa terbahak-bahak atau bahkan menangis terharu.

Happy reading!!!





Wednesday, August 1, 2012

Tentang Murid Negeri Sakura

Just write this poetry spontaneously when I know the fact in front of my face


Seorang lelaki datang
Dari Negeri Sakura nan megah
Dia berguru cemerlang
Terbaik dari yang baik

Lelaki datang dengan kertas berharga
Bukti kecemerlangan
Kepandaian hitam di atas putih
Mencari masa depan

Entah apa tujuannya
Tuluskah mengabdi kepada negara?
Atau mengejar keping-keping kebahagiaan?
Atau demi pandangan sekitar?

Dia berjalan tegap
Mengangkat dagu
Wajahnya berkata, "Saya bisa segalanya"
"Saya juaranya"

Hingga di suatu titik
Ketika dia terjatuh
Tangan sang petinggi mengangkatnya 
Bertanya lembut dan tersenyum
"Apa kabar ayahmu sang sahabat lamaku?"

Lelaki pun mendapat kursi emas
Indah nan rapuh
Cemerlang nan busuk
Hanya Tuhan  yang tahu

Kisah di Sebuah Kantor

Ruangan terasa lengang
Udara merebak dari pendingin
Mengalirkan rasa segala penjuru

Ruangan ini dingin
Ketika tiada lagi karya dikejar
Tak ada lagi waktu bergejolak

Lain hari ini lain kemarin
Kemarin penuh deru langkah kesibukan
Merangkai kata dan berencana

Kini sepi melanda
Namun kelegaan terasa
Cukup menunggu takdir Sang Kuasa

Tuesday, July 31, 2012

Catatan Kecil untuk Ibukota


Terserak di tengah perjalanan
Kepadatan yang tak terungkap
Takkan berujung di penghujung
Menepi bahkan tak mampu

Hanya tatapan kosong
Cukuplah segala lelah peluh
Menatap nanar sekitar
Hati pun berputus asa

Ibukota
Inilah kau yang kukenal
Yang dijajaki manusia setiap hari
Hingga lelah memohon
Tetaplah kau
Sang Ibukota

Sunday, July 15, 2012

Kamu dan Hariku

Tahukah kamu tentang pagi?
Detik dimana surya mulai berseri
Memberi kehidupan bagi segala arti

Kamu seperti pagi
Tak pernah berhenti memberi
Cahaya terang bagi sang hati

Ingatkah kamu akan siang?
Saat semangat telah membara
Kekuatan membakar asa

Kamu adalah siang
Terus menjaga tanpa padam
Mengabulkan segala harapan

Bagaimana dengan senja?
Batas khayal akan dunia
Keindahan surga dalam kedipan mata

Kamulah senjaku
Tempat segala bahagia dan air mataku
Saat dimana aku merindu

Ada apa dengan malam?
Bulan erat merengkuh bintang
Menepis peluh segala lelah

Kamu bagaikan malam
Tempat sandaran segala rasa
Detik memetik segala cinta

Kamu segala waktuku
Kamu seluruh hariku
Pagi, siang, senja hingga malam pun
Aku tahu hanya kamu
Mengisi hariku dengan selalu
Segala senyum nyanyian syahdu

Itu kamu...

Tuesday, June 26, 2012

Puisi untuk Sahabat --- Sahabat untuk Ayah Bunda


Puisi pesanan seorang sahabat yang akan menikah minggu ini, dan saya pun ikut menangis ketika menulisnya. Sedang membayangkan saya ada di posisinya, mengucapkan terima kasih dan memohon doa restu untuk membangun rumah tangga baru, meninggalkan orang tua menjadi manusia baru yang mandiri, membentuk keluarga sendiri. Anyway, segala doa untukmu sahabatku. :)
 


Dua puluh empat tahun telah terlewati.
Aku, sang putri yang beranjak dewasa.
Berjalan meniti masa depan di antara segala gelombang yang menghadang.
Perlahan, jejak rekam masa lalu mulai terbias dalam angan.
Mengingatmu, dirimu dan segala kasih sayangmu.
Sejak aku belum mampu mengingatmu.
Namun mampu merasakan sentuh cintamu.
Sejak kurasakan belai kasihmu.
Dan segala pengajaranmu yang untuk aku.
Pahit manis hidup bersamamu.
Aku adalah tetap putrimu.
Dengan kurang dan lebihku.
Dengan kurang dan lebihmu.

Ayah, Bunda.
Laksana malaikat penjaga yang tak pernah lelah.
Pemberi semangat dalam tiap titik nadiku.
Bagaikan lentera dalam kegelapan hidupku.
Sebagai pegangan dalam ayunan langkahku.
Menjadi penopang dalam rapuhku.
Penghapus air mata dalam tangisku.
Ada selalu dalam susah sukaku.

Sekalipun kukumpulkan banyak harta, takkan terbayar jasamu.
Sekalipun kukorbankan seluruh kehidupanku, takkan tertandingi pengorbananmu.
Sekalipun kuserahkan seisi dunia untukmu, takkan mampu membalas semua yang kau beri untukku.

Betapa beruntungnya aku memilikimu, lahir dari rahimmu, Bunda, dan menjadi putrimu, Ayah.
Dibesarkan dan dijaga setiap detik yang berlalu.
Hingga pada hari ini, aku berdiri tegar memohon restu kepadamu.

Memohon kembali segala doa dan restu bagi anakmu untuk melangkah lagi.
Melangkah ke kehidupan yang baru.
Melangkah menuju jenjang yang dinanti, jenjang yang pasti.
Melangkah dalam pernikahan suci dengan dia yang kau restui.
Ijinkan aku, anakmu untuk membangun mahligai cinta dalam siraman doamu yang tiada henti.
Membangun cinta dan kasih dalam naungan Sang Ilahi.

Mohon doa untuk ketegaran menghadapi setiap cobaan.
Agar kami miliki semangat hidup tatkala didera derita.
Ajar kami sesabar dirimu manakala menemui angkara.
Supaya kami menjadi teladan seperti dirimu dalam membimbing dan mengajarku, anakmu.

Aku, putrimu.
Hanya dapat berlutut di hadapmu.
Dalam lantunan doaku pun kulagukan namamu.
Memohon yang terbaik bagimu.
Saat ku cium tanganmu, ku mohon restumu selalu.
Doamu adalah anugerah bagiku.
Doamu bagi kehidupan baruku.
Doamu bagi jalan baru yang ‘kan kulalui

Ayah, Bunda.
Segala terima kasih untukmu.
Segala cinta bagimu.
Terlebih doaku selalu untukmu hingga akhir hayatku.

Tuesday, April 17, 2012

Titik Lelahku Berlari

Kadang aku lelah berlari. 
Berlari hingga berpeluh hari. 
Sengatan bulan pun terasa menyakitkan. 
Terlebih matahari yang kejam menerpa.
 
Aku berlari dengan kepalaku. 
Di saat kaki sudah tak mampu lagi berkata. 
Mengerahkan segala daya. 
Hingga hilang semua rasa.
 
Aku sudah lama berlari. 
Sejak aku belajar berlari. 
Hingga mahir jurus berlari. 
Berlari dengan tangan. 
Berlari dengan kepala. 
Berlari dengan mata dan telinga. 

Aku selalu berlari. 
Berlari dengan segala hati. 
Berlari dengan seluruh.

Hingga di suatu titik.
Aku lelah. 
Aku berhenti. 
Berhenti sejenak inginku. 
Menikmati sang bayu sambil memandang ke depan.

Aku berada di persimpangan. 
Kemana harus kembali berlari?
Ataukah cukup ku berhenti di sini. 

Menikmati sejuk rimbun musim semi. 
Tidak bergerak.
Aku seperti hilang. 
Terdiam. 
Terhenti.
Kosong. 

Aku hampa. 
Menanti jawaban hati. 
Yang lelah berlari.